
Sebanyak 20 anak penderita bibir sumbing dan langit-langit dari wilayah Bogor mulai menjalani operasi gratis di RS Permata Jonggol, Jumat (22/5/2026). Program bakti sosial ini digelar oleh PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) menjelang usianya yang ke-75 tahun pada November mendatang melalui produk unggulannya KukuBima, bekerja sama dengan Yayasan Tangan Orang Peduli (TOP) asal Surabaya, dengan total dana yang dikucurkan mencapai Rp 355 juta.
Bantuan sebesar Rp 155.250.000 diserahkan oleh Direktur Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, sementara Yayasan TOP menyumbangkan Rp 200 juta. Keduanya diserahkan secara simbolis kepada Direktur RS Permata Jonggol dr. Sri Handayani, MARS, disaksikan Camat Jonggol Andri Rahman.
Ini bukan kerja sama perdana. Sido Muncul dan RS Permata Jonggol sebelumnya telah berkolaborasi dalam penanganan stunting (Maret 2025) dan operasi katarak. Program operasi sumbing ini menjadikan Jonggol sebagai wilayah binaan ketiga berturut-turut yang mendapat perhatian serius dari perusahaan jamu dan farmasi terkemuka Indonesia tersebut.
Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, mengungkapkan bahwa program ini lahir dari empati mendalam terhadap beban yang dipikul para orang tua anak penderita bibir sumbing.
“Kami bisa merasakan bahwa anak-anak yang menderita bibir sumbing kesulitan untuk makan, berbicara, dan kurang percaya diri terhadap penampilannya. Maka dari itu, hari ini kami kembali memberikan bantuan operasi sumbing bibir gratis bagi 20 penderita yang ada di wilayah Bogor,” kata Irwan.
Irwan menegaskan bahwa kegiatan sosial seperti ini tidak terdampak oleh tekanan ekonomi yang sedang dialami banyak perusahaan. Ia mengakui Sido Muncul juga melakukan efisiensi, namun di pos yang berbeda.
“Kami juga melakukan efisiensi, tapi di hal-hal lain, misalnya biaya perjalanan atau iklan. Kalau kegiatan sosial seperti ini tetap kami jalankan karena memang sudah dianggarkan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Irwan juga berbagi kisah pribadinya di mana ia mengalami sakit keras di usia 21 tahun, mulai dari tipes hingga malaria, TBC, kencing manis, hingga depresi berat. Kondisi ini justru menjadi titik balik yang membentuk karakter kepeduliannya.
“Saya kalau tidak sakit seperti itu, Sido Muncul tidak bisa seperti hari ini. Kalau sesuatu yang dilakukan bermanfaat, saya rasa tidak ada yang hilang. Dapat dua hal: bermanfaat bagi orang lain dan hatinya tentram,” tuturnya.
Ia juga memuji kontribusi para tenaga medis yang bekerja tanpa bayaran dalam program ini.
“Saya berterima kasih kepada dokter-dokter yang mengoperasi, karena mereka bekerja secara gratis. Yang paling berjasa sebenarnya dokter-dokter ini,” ucapnya.
Irwan berharap program ini bisa menginspirasi perusahaan lain.
“Bantuan yang diberikan ini merupakan bagian dari upaya Sido Muncul untuk konsisten dalam berkontribusi kepada masyarakat. Kami berharap dengan kegiatan yang kami lakukan akan diikuti oleh perusahaan lain, agar semakin banyak yang bisa terobati,” pungkasnya.
Yayasan TOP: Dari Lapangan Tenis ke Meja Operasi
Di balik program ini ada kisah menarik dari Surabaya. Yayasan Tangan Orang Peduli (TOP),
sebuah komunitas pencinta tenis yang diketuai Nathalia Soetrisno mengumpulkan dana dari turnamen Tolak Angin TOP Tennis dan Padel 2026, lalu mengalirkannya ke meja operasi di Jonggol, Bogor.
“Biasanya orang melihat pertandingan olahraga hanya sebagai sebuah kompetisi. Namun bagi kami, setiap pertandingan, setiap lingkungan sponsor, setiap peserta yang ikut bertanding, ternyata bisa menjadi sebuah jalan untuk menghadirkan senyum baru dan harapan bagi banyak orang,” kata perwakilan Yayasan TOP, Mayasari.
Berawal dari komunitas tenis, TOP membangun gerakan yang menghubungkan pemain, sponsor, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama menghadirkan perubahan positif. Seiring berkembangnya minat olahraga raket di Indonesia, khususnya pertumbuhan padel yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, TOP juga mulai aktif mendukung dan mengembangkan ekosistem olahraga padel. Para pendiri dan penggerak TOP kini aktif dalam komunitas padel dan melihat olahraga ini memiliki semangat kebersamaan yang kuat serta potensi besar untuk menjadi sarana berbagi kepada sesama.
Sejak berdiri, TOP telah aktif menjalankan berbagai program sosial, mulai dari penyediaan air bersih lewat Water of Life di berbagai desa yang membutuhkan, beasiswa pendidikan, renovasi panti asuhan dan rumah jompo, hingga kini kolaborasi operasi sumbing ini.
“Kami percaya, buah bantuan yang diberikan dengan tulus tidak hanya mengubah keadaan seseorang, tetapi juga bisa membawa harapan baru bagi masa depan,” imbuhnya.
Adapun kerja sama dengan Sido Muncul dalam kegiatan ini merupakan yang perdana bagi Yayasan TOP yang dijembatani oleh anggota Yayasan TOP Rheno Adrian Hidayat.
“Harapan kami ke depan bisa ‘ketularan’ Sido Muncul. Bisa konsisten menyumbang dan sukses, sehingga manfaatnya semakin besar bagi banyak orang,” kata Mayasari
“Kiranya kolaborasi seperti ini dapat terus berjalan dan semakin banyak pihak yang tergerak untuk bersama-sama menebarkan kebaikan dan dampak nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Program Operasi Sumbing Berjalan hingga Oktober 2026
Di lain pihak, Direktur RS Permata Jonggol dr. Sri Handayani, MARS, menyambut program ini dengan penuh syukur sekaligus menegaskan bahwa ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang.
“Baksos ini akan berlangsung selama lima bulan, dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2026. Harapannya dalam rentang waktu lima bulan ini, kami bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi, lebih banyak anak-anak yang terbantu melalui operasi bibir sumbing ini,” jelas dr. Sri.
Untuk memastikan keselamatan pasien, rumah sakit menetapkan prosedur screening ketat sebelum tindakan operasi. Untuk bibir sumbing, pasien minimal berusia tiga bulan dengan berat badan minimal lima kilogram. Untuk sumbing langit-langit, syaratnya minimal usia satu tahun dengan berat badan delapan hingga sembilan kilogram.
“Anak juga harus dalam kondisi sehat, tidak sedang demam, batuk, pilek, atau memiliki penyakit bawaan tertentu. Setelah lolos screening oleh dokter spesialis anak, baru bisa dilakukan tindakan operasi,” terang dr. Sri.
Tim medis yang disiapkan mencakup dokter spesialis bedah plastik, dokter anak, dan dokter anestesi. Ia juga menegaskan pendaftaran program ini masih dibuka seluas-luasnya untuk masyarakat.
“Sebanyak-banyaknya. Hari ini ada 20 pasien, tapi program masih dibuka hingga Oktober 2026,” kata dr. Sri.
dr. Sri juga menekankan dampak nyata operasi ini bagi tumbuh kembang anak.
“Dengan penanganan yang tepat dan cepat, anak-anak ini dapat menjalankan kehidupannya lebih baik. Mereka bisa makan dengan nyaman, bicara dengan jelas, dan tentunya aspek psikososial juga akan lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama ini merupakan ketiga kalinya antara RS Permata Jonggol dan Sido Muncul.
“Tahun lalu kita bekerja sama untuk penanganan stunting dan juga katarak, tahun ini untuk operasi bibir sumbing dan langit-langit. Terima kasih Sido Muncul yang sudah yang ketiga kali bekerja sama dengan kami,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Camat Jonggol Andri Rahman yang mewakili Pemerintah Kabupaten Bogor menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi Sido Muncul dan mitra-mitranya dalam menggelar kegiatan sosial di wilayahnya.
“Ini sudah ketiga kalinya kegiatan sosial dilaksanakan di RS Permata Jonggol – penanganan stunting, operasi katarak, dan sekarang operasi bibir sumbing. Kegiatan ini sangat membantu dan meringankan masyarakat, terutama yang mungkin belum seluruhnya bisa ter-cover pemerintah,” ujar Andri.
Andri menambahkan bahwa program ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor yang jatuh setiap 3 Juni. Selain operasi sumbing, akan ada kegiatan cek kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar.
Dalam kesempatan itu, Haris Hidayat, seorang penjual gorengan, datang bersama putranya, Hayat Banyuwira, yang kini duduk di kelas 4 SD. Hayat lahir dengan bibir sumbing dan ini adalah operasinya yang kedua kalinya.
Hal yang membuat Haris terharu, justru reaksi sang anak ketika tahu ada program operasi gratis ini.
“Pas mamahnya ngasih tahu, ‘Dek, mau nggak dioperasi lagi?’ – dia jawab ‘Mau, Mah.’ Sambil meluk mamahnya, sambil nangis. Saya waktu itu lagi jualan, cuma ibunya yang ngomong. Saya langsung terharu,” kenang Haris.
Menurut Haris, selama ini Hayat kerap menunduk atau menutup wajahnya saat ada orang yang memperhatikannya.
“Kadang kalau lagi main atau kemana gitu, dia suka nunduk aja. Apalagi kalau ada yang ngeliatin, pasti ditutupin karena malu,” kata Haris.
Ia pun berharap tidak ada yang membuli lagi anaknya.
“Biar nggak ada rasa malunya. Dari cara bicaranya, dari segi fisiknya, alhamdulillah semoga normal kembali,” harapnya.
Pasien lain, Abdul Qadir datang membawa putranya, Rafly Ramadhani, yang baru berusia 14 bulan. Kondisi bibir sumbing sudah dialami Rafly sejak lahir. Abdul mengetahui program ini dari saudara yang mengirimkan informasi lewat ponsel. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendaftar.
“Kita kan orang yang membutuhkan, ya sangat bergembira. Langsung aja daftar melalui HP,” katanya.
“Untuk program ini ke depannya semoga lebih baik, lebih bagus. Untuk perusahaan yang ikut serta memberikan donasi, semoga lebih maju dan lebih baik untuk semuanya membantu. Sangat berterima kasih untuk keluarga yang tidak mampu seperti kami,” tutup Abdul.
Sebagai informasi, program operasi sumbing bibir gratis Sido Muncul telah berjalan sejak 2018, pertama kali di Kupang, NTT. Hingga saat ini, total pasien yang telah dibantu mencapai 774 orang, tersebar di berbagai daerah Indonesia. Program di RS Permata Jonggol akan terus berlangsung hingga Oktober 2026, dan pendaftaran dibuka untuk masyarakat dari wilayah Bogor, Bekasi, dan sekitarnya. (sumber detik.com)